Perempuan Inspiratif Yudhytia Wimeina, S.E., M.M.: Pengelola Aset Kearifan Lokal Minangkabau Berbasis Industrial

 

PNP News. Meskipun bukan leader dominan dalam teamwork secara operasional, Yudhytia Wimeina, S.E., M.M. secara “de yure” berhasil meyakinkan reviewer Program Penguatan Pendidikan Tinggi Vokasi (P3TV) menyetujui Rp. 1,160 Milyar untuk Program Studi Usaha Perjalanan Wisata, Politeknik Negeri Padang yang dikoordinatorinya.

 

 

 

 

Punya rekam jejak kerjasama dengan industri dan dunia kerja pada proses pendidikan, baik untuk kurikulum maupun magang di industri dan dunia kerja melalui pendekatan pendidikan berbasis, menjadi salah satu syarat pengusul P3TV tersebut. Misalnya, program dual system (3-2-1 atau 5-2-1 atau yang sejenis) atau teaching industry yang dibuktikan dengan MoU, MoA atau SPK.

Dengan mengandalkan “kearifan lokal berbasis industrial’ yang spesifik, P3TV yang awalnya diajukan Rp. 1,3 Milyar tersebut diharapkan mampu mendukung pelaksanaan Program Penguatan Kemitraan dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) Melalui Co-Workingspace dan Penguatan Proses Belajar-Mengajar Berbasis Industri, jelas kelahiran 22 Oktober 1984 ini. P3TV juga dimaksudkan untuk meningkatkan relevansi program studi Usaha Perjalanan Wisata dengan kebutuhan industri dan serapan serta keterpakaian lulusan oleh DUDI. Untuk mencapai semua itu dibutuhkan strategi pengembangan pendidikan tinggi vokasi yang antara lain melalui reformasi peningkatan kualitas pembelajaran pendidikan tinggi vokasi melalui kemitraan strategis dengan industri.

 

 

 

Wanita yang mengawali karier di Moller–Maersk, sebuah perusahaan asal Denmark yang bergerak di sektor logistik dengan fokus utama industri transportasi ini percaya dan optimis melalui program penguatan kemitraan dengan DUDI melalui co-workingspace, prodi yang dikoordinatorinya bakal sukses dan akreditasinya meningkat. “UPW bakal melibatkan mitra dari industri kepariwisataan untuk memperkaya rancangan kurikulum yang memiliki karakter kearifan lokal dan berbasis industrial, menetapkan standar kompetensi untuk mahasiswa yang akan melaksanakan magang di industri, serta mengembangkan teaching factory yang diharapkan dapat dimanfaatkan secara bersama dengan industri”, jelas sosok yang juga disebut-sebut pernah aktif di LSM ini mantap.

Kesungguhan meniti karier sebagai dosen ditunjukkan dengan usahanya dalam 3 tahun terakhir ini mengantongi sertifikasi teknis public speaking, sekretaris, manajer administrasi, dan office administrative. Tercatat 5 mata kuliah yang diampunya berhubungan dengan komunikasi dan kebolehannya menggunakan lebih dari satu bahasa: MICE, Public Relations, Manajemen UPW, Manajemen Perkantoran, dan Komunikasi Bisnis. Fokus penelitiannya pun pada potensi destinasi wisata, sesuai homebase-nya.

 

 

 

Meskipun memiliki ambisi (tidak ambisius) untuk lebih tampil dan dikenal, Yudhytia yang dikenal mahasiswa sebagai sosok yang tegas dan suka berbagi uang dengan mahasiswa ini tak sungkan mengalah pada sosok yang diyakininya lebih senior dan lebih berpengalaman. “Oke, saya manut saja!” demikian dia berkomentar.

“Dalam teamwork, Pak Sarmiadi adalah motor sekaligus leader yang baik. Di samping punya pengalaman di atas rata-rata anggota tim, ia menguasai medan dan memiliki networking yang luas. Namun Miss Yudhyt kompeten dalam merumuskan semua keputusan dan pemberi semangat dalam tim. Secara de yure, seluruh kegiatan tim juga di bawah kendalinya selaku Koordinator Program Studi”, jelas Alfatah Haris, alumnus S-2 Universitas Tri Sakti. Selain Yudhytia, Sarmiadi, dan Haris, tercatat 4 anggota lainnya, Novi Yanita, Rafidola, Ranti Komala, dan Tuti Azra memperkuat Tim P3TV-UPW PNP.

 

 

 

Yudhytia yang dinilai sebagian koleganya sebagai sosok yang rajin bekerja dan jika bekerja tuntas, namun sukar masuk kerja pagi ini berharap program penguatan Proses Belajar Mengajar (PBM) berbasis industri ini bisa dilaksanakan seperti yang diusulkan dalam proposal. “Kegiatan peningkatan kompetensi dosen semoga juga dapat dilakukan dengan mengirimkan dosen prodi UPW untuk mengikuti sertifikasi kompetensi, pengembangan pembelajaran daring, dan pemutakhiran sarana pembelajaran berbasis industri”, ujar alumnus S-2 Universitas Indonesia yang juga pernah menjadi anggota tim penyusun Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (Ripparda) Padangpanjang ini.

 

d®amlis

Berita Terkait