“Move On” di Era New Normal yang Menuntut Digital Mindset

 

PNP News. Menjalani kehidupan New Normal bukan berarti kita kembali kepada tatanan kehidupan normal yang pernah kita jalani tapi bagaimana kita menyesuaikan diri dengan Pandemik Covid-19 berikut dampaknya menuju masa depan yang lebih baik.

Di sini yang perlu kita tanamkan adalah mindset digital, dan kita memang harus berani move on, kalau perlu pembelajaran praktik langsung hands on learning bisa diselenggarakan secara online tanpa mengabaikan nilai-nilai, karakter atau soft skill mahasiswa atau peserta didik.

 

Hal itu diungkapkan Direktur Politeknik Negeri Padang, Surfa Yondri, usai Webinar Perancangan Pembelajaran Daring untuk Mendukung Mereka Belajar Kampus Merdeka, yang diselenggarakan secara online via aplikasi zoom pada Rabu, 8 Juli 2020.

Mengacu pada kondisi hari ini, menurut Direktur Surfa Yondri, harus dipisah konsep online learning yang telah dilaksanakan pada semester lalu dengan online learning yang bakal kita jalani semester mendatang.

Pembelajaran online yang kita jalani semester lalu lebih dikarenakan untuk menjawab tantangan Pandemi Covid-19, namun online learning yang bakal kita jalankan dalam new normal adalah untuk menjawab tantangan masa depan. Ini yang disebut literasi digital dan digital mindset, terangnya.

Mendadak digital dalam e-learning semester kemaren diibaratkannya sebagai orang hanyut, ketemu kasur pegang kasur, ketemu kayu, pegang kayu. Ke depan proses pembelajaran daring tidak seperti itu. Pembelajaran daring seperti yang dipaparkan narasumber Webinar tersebut, harus didesain sedemikian rupa sehingga kita tidak hanyut di sungai yang sama, jelasnya.

 

 

Minimal Dosen Magang di Industri Sekali 4 Tahun

Mengutip Dirjen Vokasi dalam Rapat Forum Direktur Politeknik baru-baru ini, Direktur Surfa Yondri menyatakan, Pengakuan Angka Kredit (PAK) Dosen Vokasi sedang digarap saat ini. Salah satu isinya, minimal sekali dalam 4 tahun dosen Politeknik harus ada di industri. Itu sekarang yang sedang didesain agar jangan sampai mahasiswa sudah magang ke industri, sementara dosennya malah tak pernah ke industri, jelasnya.

  

 

Bagaimana Belajar Efektif di Dunia Maya?

Keefektifan belajar di dunia maya menurut Anggota Tim E-learning Kemendikbud, Muhammad Adri, S.Pd., M.T. sangat tergantung pada desain awal. Berbeda dengan semester kemaren yang mendadak daring yang proses belajarnya tidak terencana dengan baik, pada semester ganjil pada Juli-Desember 2020, jika dosen betul-betul bisa melakukan analisis terhadap kurikulum dan materi kuliah yang akan diajarkan dan memilih aspek yang butuh ice breaking, mahasiswa bisa belajar dengan kapasitas dan kemampuannya sendiri.

Jika dalam proses belajar tatap muka di kelas mereka masih malu untuk bertanya karena khawatir dikira macam-macam dan di- bully oleh teman, maka pada session online learning mereka bisa melakukan privat chat kepada dosen atau mengirim YM dan sebagainya melalui proses learning management hingga 2-3 kali berturut-turut dan berulang dibanding teman mereka yang lain.

Jadi, mereka bisa secara mandiri mengukur kapasitas kemampuan belajar mereka. Pada akhirnya semua konten yang digambarkan dosen betul-betul bisa diadopsi dan semua proses pembelajaran tadi akan membentuk dua model: sinkronous dan asinkronous.

Perbedaan utama antara pembelajaran sinkron dan asinkron adalah bahwa pembelajaran sinkron mirip dengan kelas virtual, melibatkan sekelompok siswa yang terlibat dalam pembelajaran pada saat yang sama, sementara pembelajaran asinkron melibatkan pembelajaran yang berpusat pada siswa mirip dengan pendekatan belajar mandiri dengan sumber belajar online yang diperlukan.

Dengan demikian akan ada waktu bagi dosen untuk bertatap maya dengan mahasiswa jika dalam model itu ada fasilitasnya yang disebut big blue button (BBB) atau menggunakan cup. BBB merupakan produk open source dengan lisensi GNU GPL yang memungkinkan penggunanya memodifikasi source code sesuai kebutuhan masing-masing usernya.

Menurut Ardi, lembaga kerjasama di UNP memang mengarahkan dosen-dosen menggunakan fasilitas web conference dari BBB tadi karena kalau mereka memakai aplikasi di luar itu, dikhawatirkan akan menyedot kuota mahasiswa. Dengan menggunakan BBB, mahasiswa bebas mengakses internet di bawah sub domain UNP. Mereka yang tergabung dalam unpelearning.co.id itu juga mendapatkan free chas, karena pembiayaannya sudah masuk ke dalam paket kerjasama.

“Setidaknya bisa mengurangi aspek psikologis mahasiswa karena ketika mereka belajar daring mereka juga berpikir tentang kuota yang mulai ngeres, mau nambah dulu dan sebagainya. Itu mengganggu konsentrasi dan atensi mereka terhadap pembelajaran”, jelas Adri.

 

 

Plagiarisme dan Pemikiran Tingkat Tinggi

Dr. Sri Suning Kusumawardani, Anggota Tim Penyusun Panduan Merdeka Belajar Kampus Merdeka menambahkan ungkapkan Adri, kunci sukses pembelajaran daring adalah perencanaan. Jika kurang rencana dikarenakan Pandemi Covid-19, misalnya, maka pembelajaran daring kurang efektif.

Di sisi lain, untuk menjadi efisien, dia menganjurkan untuk mencoba metode Flipped Learning, yang mengoptimalkan model sinkron dan asinkron. Flipped Classroom atau Flipped Learning merupakan metode pembelajaran yang membalik metode tradisional. Biasanya materi diberikan oleh guru di kelas dan siswa mengerjakan tugas di rumah. Namun, pada metode ini dosen akan memberikan materi kuliah yang bakal dibaca mahasiswa di rumah.

Dosen sudah menyiapkan rekaman video untuk menyampaikan materi baru atau mengambilnya dari materi-materi yang relevan. Namun Suning mengingatkan agar dosen jangan mengambil semua dari YouTube dan internet umumnya, harus ada unsur video dosen itu sendiri dan ketika saat sinkron atau tatap maya, usahakan memanfaatkan waktu seefektif mungkin untuk mencapai high of thinking dari mahasiswa.

Menanggapi audiens yang mengusulkan tersedianya tenaga profesional di bidang teknologi pendidikan, Muhammad Ardi menyatakan, mekanismenya akan sedikit berubah. E-learning bagaimanapun adalah proses akademik yang tentunya terintegrasi dengan sistem akademik, jika tenaga profesional disediakan, maka beban kerja seperti ini tidak bisa kita serahkan lagi pada BPTP. Harus ada secara institusional lembaga yang memonitoring kualitas mutu pembelajaran.

Dicontohkan, jika selama ini di kampus dia mengajar, Penjamu (Pusat Penjaminan Mutu) melakukan monitoring perkuliahan tatap muka, maka sekarang mereka mulai melakukan monitoring online learning. Apa instrumen untuk mengukurnya? Mereka bisa mengukur dari sisi kontennya, apakah konten yang di- upload dan dikembangkan oleh seorang dosen memang minimum dari sebuah konten pembelajaran.

Mengutip Suning, Ardi menambahkan, apakah videonya hasil caplokan, atau semua materi tersebut adalah hasil “mulung” di Youtube? Ya, boleh saja, tapi setidaknya ada video original, karya dosen bersangkutan walaupun hanya bermodalkan handycam, smartphone, untuk memvideokan slide-slide presentasi. Jadi ada aspek orijinalitasnya. Ini terutama jika konten dosen itu akan di- publish secara massif.

“Kta harus hati-hati dalam persoalan copy write, persoalan plagiat, hak cipta dan sebagainya. Di sinilah peran lembaga LP3M dan sub-sub koordinasi unit penjamin mutu di level penjurusan prodi dan fakultas yang puncaknya di LP3M, terangnya.

Keterampilan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan berpikir yang menerapkan pengolahan dalam kegiatan mengingat, menyatakan kembali, atau merujuk sesuatu hal. Jadi mahasiswa mendiskusikan, merefleksikan, dan menganalisis apa yang disampaikan dalam materi-materi baru dari rekaman dan sumber-sumber belajar materi baru lainnya.

 

 

Adakah Kewajiban Moral Meluluskan Mahasiswa yang Kehilangan Sinyal?

Pertanyaan yang cukup menggelitik dalam Webinar yang dipandu oleh Meri Azmi, S.T., M.Cs. itu datang dari Dalrino dari Politeknik Negeri Padang. Adakah kewajiban moral bagi dosen untuk meluluskan mahasiswa yang tidak mendapatkan sinyal di kampungnya?

Menurut Adri, masalah kehilangan sinyal sudah menjadi dilema nasional, bahkan negara maju pun memiliki area-area yang disebut blank spot, ‘area-area yang memang tidak bisa dihadirkan sinyal di sana’, terang dosen Universitas Negeri Padang ini.

Sekaitan dengan itu, ia tidak setuju jika kodisi saat ini dijadikan barometer kurang berhasilnya program e-learning. Ia menilai tidak pas karena di saat kondisi pandemik saat ini, mahasiswa sedang berada di kampung atau di rumah masing-masing dengan berbagai persoalan sinyal dan jaringan.

Namun jika kondisi sudah normal dan mahasiswa kembali ke kampus, online learning bisa dijadikan komponen belajar tatap muka. Keenam belas kali pertemuan (PNP 18 kali) bisa di- support dengan pertemuan online. Jadi, materi online ini menjadi suplemen, penunjang, jelasnya.

Lebih jauh diungkapkan Adri, di UNP sudah ada kebijakan rektor yang mengakui perkuliahan daring itu 50% dari total pertemuan dalam 1 semester. Jadi, jika dosen tidak datang ke kampus 8 kali pertemuan, tapi ada konten pembelajaran online dan bukti aktifitas pembelajaran online, semua itu diakui sebagai proses menjalankan tupoksi di bidang pendidikan bagi seorang dosen. Kebijakannya fifty-fifty, atau maksimal 50%, tidak boleh lebih.

Ketakhadiran mahasiswa dalam proses belajar mengajar menurutnya bisa difasilitasi dengan sms dan chat, misalnya. Mereka tetap diberi range waktu lebih panjang. Misalnya, jadwal untuk pengumpulan tugas mestinya hari Kamis, tapi karena kendala jaringan, kita tinggal setting ulang, diperpanjang hingga Sabtu-Minggu depan. Begitu mendapatkan sinyal, mereka bisa langsung mengirimkan tugas.

Di sisi lain, menurut Suning, materi yang diakses dengan mudah dalam bentuk video, bisa dikirimkan kepada mahasiswa. “Jangan terlalu keras, jangan sampai absen mereka dicecar, email mereka dicurigai sebagai bukan perwakilan diri mereka, misalnya. Belajar daring itu sebetulnya adalah proses membangun budaya belajar positif dan budaya bertanggung jawab atau disiplin! tegas Suning.

Namun meluluskan begitu saja mahasiswa yang tak pernah mengerjakan tugas di saat pembelajaran daring dengan alasan ketiadaan sinyal, menurut Suning dan Adri bukanlah tindakan yang bijak.

“Pembelajaran itu terkait dengan keterukuran dan sesuatu yang diakses. Jika memang kewajiban mereka kurang dilaksanakan, kita perlu strategi, bagaimana mewujudkan capaian pembelajaran. Bisa saja jadwal praktik diundur menunggu mereka yang belum selesai. Jika pencapaian mereka tidak maksimal mungkin patronnya direndahkan sedikit. “Mahasiswa gak ada aktifitas, diluluskan, ya gak boleh!” tegas Suning.

Bukan berarti kita kejam, tapi memang harus ada pencapaian minimum yang harus dipenuhi oleh mahasiswa. Salah satu solusi yang diberikan Ardi adalah dengan membuat surat keterangan lulus yang ditandatangani oleh dosen yang bersangkutan. Itu sebagai upaya menambahkan syarat kelulusan. Walaupun secara nilai belum bisa dikalkulasikan tapi setidaknya mahasiswa tersebut sudah berada pada level kelulusan.

“Begitu aktifitas mahasiswa tidak memenuhi standar minimum yang ditetapkan, saya kembali mengingatkan mereka via grup telegram dan WA. ‘Bapak akan buka kembali kesempatan upload sampai tanggal sekian’. Jadi kita memang harus sedikit bermurah hati membuka kesempatan untuk itu. Jika tiba-tiba mereka kita luluskan, dari segi tanggung jawab moral kita bermasalah jadinya”, Ardi mengingatkan.

“Mohon maaf, contoh ini agak sedikit ekstrem, setidaknya kita bisa membuat checklist siapa yang sudah mengirim tugas dan siapa yang belum. Itulah contoh ekstremnya!” lanjut Ardi sambil menawarkan solusi yang disambut celutukan Direktur PNP, Surfa Yondri setengah bercanda: “Itu selemah-lemah iman!” “Ya, bagi yang belum mengirim diminta untuk mengirim kembali, bagi yang sudah, kita anggap lengkap”, sambut Adri kembali.

Di penghujung Webinar, Meri Azmi menegaskan, pembelajaran daring yang mencakup e-learning pada prinsipnya adalah bagaimana dosen menyampaikan materi perkuliahan tidak sekedar materi itu saja tapi ada ” value” yang ditanamkan pada mahasiswa. Caranya, banyak media yang bisa dimanfaatkan untuk e-learning ini, dosen jangan terpaku pada satu media saja. Dosen dituntut kreatif untuk mencari media yang lebih mudah diakses oleh mahasiswa dan diri mereka sendiri.

Khusus untuk Jurusan Teknologi Informasi, mahasiswa tidak dituntut menjadi youtuber dan sejenisnya, tapi bagaimana cerdas secara digital dalam memanfaatkan internet dan media digital untuk hal-hal yang lebih bermanfaat di kemudian hari, pungkasnya.

 

d®amlis

 

Berita Terkait