PSDKU Tanah Datar Siap Terima 120 Orang Mahasiswa Baru

 

PNP News. Penerimaan mahasiswa baru di Kampus Politeknik Negeri Padang di Kabupaten Tanah Datar dilaksanakan bersamaan dengan penerimaan mahasiswa baru Politeknik Negeri Padang dengan jalur SNMPN, SBMPN, dan Seleksi Mandiri. Proses perkuliahan dipastikan dimulai pada September 2021.

 

Hal itu diungkapkan Direktur Politeknik Negeri Padang (PNP), Surfa Yondri dalam Launching Program Studi Diluar Kampus Utama Politeknik Negeri Padang (PSDKU-PNP) Kampus Tanah Datar yang digelar secara daring dan luring dan dipusatkan di Lintau Buo, Kamis, 24 Maret 2021.

Dalam launching yang dihadiri secara daring oleh Dirjen Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto itu, Direktur merinci penerimaan mahasiswa baru di kampus utama dan di luar kampus utama Politeknik Negeri Padang. Seleksi Nasional Masuk Politeknik Negeri (SNMPN) berlangsung dari  11 Januari-19 Maret 2021, dan telah menerima mahasiswa 30 orang. Seleksi Bersama Masuk Politeknik Negeri (SBMPN) berlangsung dari 10 Mei-10 Juni 2021 melalui http://sbmpn.politeknik.or.id. Seleksi Mandiri diselenggarakan pada 15 Juni-28 Juli 2021 melalui http://www.pmb.pnp.ac.id dan proses perkuliahan akan dimulai pada September 2021.

Meskipun kampus PSDKU tersebut berada di Kabupaten Tanah Datar, proses pendidikan yang akan dilaksanakan sesuai dengan Standar Penjaminan Mutu yang ada di Politeknik Negeri Padang, baik dari aspek input maupun proses, jelasnya.

Dikatakan pada Bupati Tanah Datar Eka Putra yang hadir, PNP saat ini sedang memberikan Pelatihan Metodologi Pengajaran Pendidikan Vokasi kepada 10 orang Calon Dosen PSDKU-PNP di Kabupaten Tanah Datar. Sehubungan dengan itu, PNP telah menugaskan beberapa dosen senior untuk mengelola PSDKU di Kabupaten Tanah Datar sehingga kualitas pendidikannya sama dengan di Kampus Utama.

Direktur juga melaporkan ke Dirjen, saat ini, sudah 30 orang yang mendaftar ke PSDKU dimaksud meskipun mereka belum tahu lokasi kampus dan bagaimana kondisi daerahnya. PNP menargetkan, PSDKU Tanah Datar ini membuka 2 prodi, Prodi Teknik Sipil dan Sistem Informasi, masing-masing 2 kelas yang per kelasnya beranggotakan maksimal 30 orang, jadi total 120 orang anak nagari sudah bisa mengenyam pendidikan di PSDKU pada tahun  ini.

 

 

Wikan: ” Hardskill Saja Tak Berdampak Jangka Panjang dan Belum Tentu Diinginkan Dunia Kerja”

Dalam sambutannya, Dirjen Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto menyatakan, pengelola perguruan vokasi jangan fokus pada hard skill saja karena itu tidak berdampak jangka panjang dan dipastikan tak mampu menghasilkan lulusan yang diinginkan dunia kerja. Kita butuh pengelola yang punya pola pikir yang penuh inovasi, haus perubahan, dan menguasai soft skill serta tidak berasumsi Politeknik itu menciptakan para tukang.

Kalaupun Politeknik akan menciptakan tukang, pastikan tukang yang dihasilkan sangat ahli dan diakui di level internasional karena memiliki sertifikasi, karena pada hakikatnya Politeknik didirikan untuk menghasilkan lulusan siap kerja sebagai manajer atau pemimpin, pekerja ahli, dan wirausaha, ungkap Wikan mantap.

Dunia vokasi menurutnya menuntut perubahan mindset dan kapasitas leadership pengelola institusi pendidikan vokasi yang lebih terbuka dan lebih berani melakukan terobosan dan inovasi untuk  mewujudkan link and match yang benar.  Mindset itu adalah syarat dan kunci utama agar tidak terombang-ambing dalam perubahan industri yang pesat.

 

 

Di samping perubahan mindset yang harus dimulai dari pengelola pendidikan vokasi, seperti pimpinan institusi pendidikan, guru, dan dosen, kepada peserta didik juga perlu ditanamkan soft competence. Keterampilan ini menciptakan sikap untuk belajar secara mandiri sepanjang hayat, dan mestinya itu dilakukan dengan rasa senang dan dengan talenta terbaik.

Soft competence ini bekal yang penting di samping hard competence yang tidak mungkin mampu diselesaikan secara sempurna oleh peserta didik dalam tempo kurang dari 3 tahun, misalnya untuk program D-3, jelasnya.

Wikan juga menyayangkan jika lembaga pendidikan vokasi memaknai link and match sekedar seremonial penandatanganan  MoU lembaga pendidikan vokasi dengan  pihak industri yang kemudian diakhiri dengan sesi foto-foto,  dan diterbitkan di koran-koran.

 

 

Sekarang, pihak industri harus kita ajak untuk memasak makanan bersama, dengan cara duduk bersama merancang kurikulum, selanjutnya mencicipinya bersama, misalnya, dengan memperkerjakan mereka dalam program magang 1 semester, ajaknya.

Alumnus UGM yang melanjutkan studi ke Belanda dan Jerman untuk meraih Master serta ke Jepang untuk menuntaskan gelar Doktor ini juga mengimbau pengelola perguruan tinggi tidak terus-menerus mencetak lulusan yang menjadikan Indonesia bangsa importir, tapi harusnya negeri ini melahirkan bangsa eksportir dan dipenuhi oleh enterpreneur masa depan, tegasnya.

Untuk itu, pengelola perguruan tinggi vokasi harus betul-betul memahami dunia industri meskipun perubahan mindset tadi  tak secepat perubahan dan perkembangan industri,   jelasnya sambil mengingatkan bahaya bonus demografi.

Seperti beberapa negara Asia lainnya, saat ini Indonesia dalam ancaman bonus demografi karena  potensi pertumbuhan ekonomi yang tercipta akibat perubahan struktur umur penduduk mengakibatkan proporsi usia kerja lebih besar daripada proporsi bukan usia kerja. Jika Indonesia tidak siap menghadapinya maka yang terjadi justru bencana demografi karena angka pengangguran yang tinggi menimbulkan potensi konflik sosial, ia mengingatkan.

 

PSDKU Tanah Datar Butuh Dukungan Bupati, DPRD, dan Perantau

Penyelenggaran PSDKU ini menurut Direktur Surfa Yondri membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama Bupati dan DPRD Kabupaten Tanah Datar, ungkapnya. Pola pendidikan vokasi yang menitikberatkan pada praktik labor/bengkel mengakibatkan biaya pendidikan menjadi lebih tinggi dari pendidikan lainnya, untuk itu kami sangat mengharapkan dukungan pendanaan dari Pemda Tanah Datar sesuai dengan aturan yang berlaku, ungkapnya. Ia juga mengingatkan, salah satu daya tarik masyarakat untuk kuliah adalah tersedianya gedung kuliah yang menarik dan representatif untuk melaksanakan pendidikan. Karena gedung kuliah masih menjadi aset Pemda Tanah Datar, Direktur minta Bupati berkenan merenovasi gedung kuliah yang ada saat ini agar menjadi lebih representatif. Saat ini perkuliahan direncanakan akan diselenggarakan di Kampus 1 yang merupakan Rusunawa dan di Kampus 2 Bekas SD Tigo Jangko, terang Surfa Yondri.

 

 

Dukungan serupa juga diharapkan pihaknya kepada masyarakat yang tergabung dalam Ikatan Perantau Tanah Datar maupun Perantau Lintau Buo yang bisa berperan dalam pemberian beasiswa kepada mahasiswa yang ingin kuliah tetapi kesulitan dalam pembiayaan.

 

 

Sehubungan dengan hibah tanah dari Pemda Tanah Datar, PNP katanya tidak menolak tapi minta dibangunkan kampus di atas tanah tersebut, karena kalau tanah tersebut sudah dihibahkan, Pemda akan sulit membangunkan kampus di tanah yang bukan milik Pemda.

 

 

Hadir dalam launching tersebut secara daring dan luring, pemuka masyarakat (Ninik Mamak Urang Sumando Cadiak Pandai, Alim Ulama dan Bundo Kanduang), Bupati Kabupaten Tanah Datar, Eka Putra, Anggota DPRD Kabupaten Tanah Datar, Ketua dan Sekretaris Senat PNP, pengelola perguruan tinggi dan sekolah, Pengelola PSDKU dan para Ketua Jurusan PNP.

VOKASI KUAT, MENGUATKAN INDONESIA!

 

 

 

d®amlis

Fotografer: Naswiradianto & Teuku Mohd. Alamsyah

 

Berita Terkait