UPW Tak Perlu Nikah Dengan DUDI: Jika Perlu Mahasiswanya Magang Setahun

 

PNP News. Pemerintah dan stakeholder pariwisata baiknya melupakan pariwisata masal yang targetnya mengejar kuantitas yang hanya sesaat. Kondisi pandemi global memaksa bisnis pariwisata lebih berorientasi kualitas yang berkelanjutan (sustainability). Oleh karena itu, Padang harus bisa memikirkan bagaimana Sungai Pisang, lokasi kapal dan batu Malin Kundang atau kearifan lokal Silek Minang dan sistem kekerabatan Matriarkat Minangkabau mampu mengalahkan Bangka Belitung dengan ikon film “Lasykar Pelangi” atau Pulau Bali yang dipopulerkan Julia Roberts dalam film penuh tipuan “Eat, Pray, Love” yang ternyata tak bicara tentang upaya mencari hakikat hidup tapi perjalanan wisata selebritas ke Italia, India, dan Bali itu, misalnya.

 

Hal itu diungkapkan Prof. Azril Azhari, Ph.D., profesor pariwisata pertama di Indonesia yang juga menjabat Ketua Ikatan Cendekia Pariwisata Indonesia dalam Seminar Pariwisata Sumbar dan Pelatihan Softskill Dosen Program Studi Usaha Perjalanan Wisata, Rancangan Magang Industri Bersertifikat di Aula Jurusan Teknik Mesin, Selasa, 10 November 2020.

 

 

 

Profesor asal Parak Jua Sumanik, Salimpauang, Batusangkar tapi kelahiran Pontianak ini dikenal kritis terhadap kebijakan pemerintah di saat pandemi. Menurutnya pemerintah tidak peka karena masih berorientasi pada target kuantitatif & ekonomi, dan itu bukanlah tindakan preventif atas pandemi Covid-19, karena malah membuka celah “imported cases”.

Awal pandemi Febuari 2020, Pemerintah mengeluarkan kebijakan insentif untuk hotel & tiket pesawat yang justru membuka peluang meningkatnya aktifitas berwisata wisatawan nusantara (wisnus) dan wisman mancanegara (Wisman). Hanya beberapa daerah yang menutup destinasi dan event pariwisatanya. Tindakan Pemerintah ini dinilai bersifat setengah hati karena tidak dilakukan dari awal Februari padahal tindakan preventif lebih baik daripada menyembuhkan.

Harusnya stakeholder dan pemerintah sadar bahwa paradigma pariwisata dunia telah bergeser dari paradigma lama 3-S (Sun, Sand, Sea) menuju paradigma baru 3-S (Serenity, Spirituality, Sustainability) atau ketenangan, kepercayaan, dan keberlanjutan, ungkap guru besar pariwisata ini.

Pariwisata itu menguasai alam (nature) guna menikmati keindahan fisik alam (tangible) dan pariwisata selaras dengan alam guna mencari kedamaian batin (spirituality & intangible) guna menikmati kesenangan (enjoy) serta mencari ketenangan diri (serenity). Mengacu pada hal itu, dalam pandemi global ini kita tak perlu mengejar target jumlah wisatawan namun lebih berorientasi pada pariwisata berbasis kualitas yang berkelanjutan. Artinya target tak lagi pada jumlah kunjungan tapi pada kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Negara. Sekaitan dengan itu data tenaga kerja dan investasi di sektor ini harus dibenahi secara mandiri, tekannya.

Dalam seminar dan pelatihan softskill yang dipandu oleh Koordinator Program Studi Usaha Perjalanan Wisata (UPW), Yudhytia Wimeina, SE.,M.M., itu Prof. Azril juga mengusulkan di samping dibekali sertifikat kompetensi, lama magang mahasiswa program studi baiknya 1 tahun dan itu disetujui oleh Dirjen Vokasi, jelasnya.

Kemenparekraf juga dinilai lebih membantu usaha besar daripada usaha menengah atau UMKM Pariwisata yang harus diprioritaskan mendapatkan bantuan. Kita berharap stakeholder pariwisata berkolaborasi mencari solusi pengembangan pariwisata Indonesia pasca pandemi global Covid-19, ujar pemain film layar perak (?) yang menganggap pernikahan perguruan tinggi vokasi dengan DUDI tidak berlaku bagi prodi pariwisata karena pariwisata adalah dunia usaha dan dunia industri (DUDI) itu sendiri, tekannya.

 

 

Dosen Jangan Takut Berinovasi

 

 

Dalam sambutannya, Direktur Politeknik Negeri Padang, Surfa Yondri, S.S.T., M.T., mengungkapkan, akibat pandemi Covid-19, PNP tidak memberlakukan magang atau PKL bagi Program Studi Usaha Perjalanan Wisata. Namun demikian, dengan konsep “Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar” mahasiswa dimotivasi untuk menggali dan mengembangkan potensi pariwisata lingkungan mereka.

Direktur juga mencontohkan, Politeknik Batam menawarkan ruang/labor mereka untuk digarap mahasiswa berdasarkan project. Sehubungan dengan itu, dosen memfasilitasi kebutuhan mahasiswa.

Melihat fenomena banyaknya pelaku usaha yang percaya diri mengelola usaha pariwisatanya meski tidak berlatarbelakang wisata, mestinya dosen juga percaya diri berinovasi. Ia nengimbau dosen untuk tidak terbelenggu dengan kondisi terkini, tapi percaya diri dalam melakukan terobosan atau inovasi.

Dicontohkan, karena pernah menghadiri Dies Natalis sebuah perguruan tinggi yang pembukaan wisudanya memperdengarkan musik mirip nyanyian gereja, maka Direktur berinisiatif mengusulkan acara wisuda dan Dies Natalis diwarnai dengan nyanyian selawat badar yang kental nuansa Islaminya, dan ternyata tidak ada masalah. Direktur juga mengimbau agar civitas akademika peduli lingkungan karena diakui, kampus PNP belum begitu bersih dan nyaman. Butuh perubahan lagi agar kampus tertata dengan baik dan sempurna dan nyaman juga dijadikan objek wisata. Jika peserta seminar punya ide untuk mendesainnya, berikan masukan kepada saya, tuturnya.

 

 

 

 

Untuk ukuran kampus politeknik, PNP termasuk kampus yang indah, tapi dalam masalah tingkat kepuasan dan kenyamanan, masih perlu ditingkatkan lagi, ujar Direktur yang lebih senang kampus dihiasi bunga dan tanaman asli daripada kembang plastik ini.

Kepada pengelola jurusan dan program studi, Surfa Yondri berpesan agar dalam perekrutan tenaga pengajar, terutama dari kalangan praktisi lebih mengutamakan mereka yang bisa membesarkan nama dan kualitas kampus di dalam dan di luar. Mari kita besarkan PNP di dalam dan di luar.

 

 

“Carilah dosen yang potensial diorbitkan ke tingkat  nasional sekaligus mengorbitkan perguruan tinggi kita”, demikian Direktur Surfa Yondri. Di usianya yang ke-33 tahun, Politeknik Negeri Padang sebetulnya sudah banyak mengirim dosennya menjadi narasumber dalam temu ilmiah mancanegara, termasuk menjadi tuan rumah penyelenggara, seperti IcoAsnitech dan iCAST.

VOKASI KUAT, MENGUATKAN INDONESIA!

 

 

 

d®amlis

Berita Terkait